Berkhidmat Kepada Umat Berbakti Kepada Negeri, Memacu Kinerja, Mengawal Kemenangan Indonesia
Tampilkan postingan dengan label PEMIKIRAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PEMIKIRAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 November 2021

Refleksi Hari Pahlawan, Melawan Ketidakadilan Pembuat Sejarah

 

Warta Graha NU Pacet Mojokerto.

Mengapa kalangan muslim modernis dan kalangan sosialis kecewa kepada kepemimpinan Presiden Jokowi?

Dalam sejarah pertempuran 10 November 1945, awalnya tidak ada yang mau mengakui fatwa & resolusi jihad itu pernah ada. Tulisan Prof. Ruslan Abdul Gani, yang ikut terlibat, resolusi jihad disebut tidak pernah ada.

Bung Tomo yang berpidato teriak-teriak, dalam bukunya juga tidak pernah menyebutkan bahwa fatwa & resolusi jihad pernah ada. Laporan tulisan Mayor Jendral Sungkono juga tidak menyebut pernah ada fatwa & resolusi jihad.

Karena itu, banyak orang menganggap fatwa & resolusi jihad itu hanya dongeng dan cerita orang NU saja.

“Di antara elemen bangsa Indonesia yang tidak memiliki peran dan andil dalam usaha kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia itu hanya golongan pesantren khususnya NU,” itu kesimpulan seminar nasional di PTN besar di Jakarta tentang perjuangan menegakkan Negara Republik Indonesia, pada 2014. Bahkan dengan sinis salah seorang mereka menyatakan, “Organisasi PKI, itu saja pernah berjasa karena pernah melakukan pemberontakan tahun 1926 melawan Belanda. NU tidak pernah.” Aneh.

Pandangan ini juga pernah dianut oleh tokoh-tokoh LIPI. Gus Dur juga mengkonfirmasi bahwa sejarah ulama dan kiai memang sudah lama ingin dilenyapkan. Tahun 1990 ada peringatan 45 tahun pertempuran 10 November. Yang jadi pahlawan besar dalam pertempuran 10 November diumumkan dari golongan itu, yakni orang terpelajar yang berpendidikan tinggi. Nama-nama mereka muncul tersebar di televisi, koran, dan majalah.

“Itu ceritanya, 10 November yang berjasa itu harusnya Kyai Hasyim Asy'ari dan para kiai. Kok bisa yang jadi pahlawan itu wong-wong sosialis?" begitu komentar Nyai Sholihah, ibu Gus Dur.

Dari situlah Gus Dur diminta untuk klarifikasi. Lalu Gus Dur meminta klarifikasi, menemui tokoh-tokoh tua & senior di kalangan kelompok sosialis, mengenai 10 November. Sambil ketawa-ketawa mereka menjawab, “Yang namanya sejarah dari dulu kan selalu berulang, Gus. Bahwa sejarah sudah mencatat, orang bodoh itu makanannya orang pintar!”

“Yang berjasa orang bodoh, tapi yang jadi pahlawan wong pinter. Itu biasa, Gus”, katanya kepada Gus Dur. Gus Dur marah betul dibegitukan. Sampai tahun 90-an NU masih dinganggap bodoh oleh mereka. Tahun 1991 Gus Dur melakukan kaderisasi besar-besaran di kalangan anak muda NU.

Anak-anak santri dilatih mengenal analisis sosial (ansos) dan teori sosial, filsafat, sejarah, geopolitik, dan geostrategi. Semua diajarkan supaya tidak lagi dianggap bodoh. Dan kemudian berkembang hingga kini. “Saya termasuk yang ikut pertama kali kaderisasi itu, karena itu, agak faham,” kata Dr. H. Agus Sunyoto.

Saat penulis sejarah Indonesia menyatakan fatwa dan resolusi jihad tidak ada, Dr. H. Agus Sunyoto menemukan tulisan sejarawan Amerika, Frederik Anderson. Dalam tulisanya tentang penjajahan Jepang di Indonesia selama 1942-1945, ia menulis begini:

"Pada 22 Oktober 1945 pernah ada resolusi jihad yang dikeluarkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Surabaya. Tanggal 27 Oktober, Koran Kedaulatan Rakyat juga memuat lengkap resolusi jihad. Koran Suara Masyarakat di Jakarta, juga memuat resolusi jihad."

Peristiwa ini ada, sekalipun orang Indonesia tidak mau menulisnya karena menganggap NU yang mengeluarkan fatwa sebagai golongan lapisan bawah. Sejarah dikebiri. Dokumen-dokumen lama yang sebagian besar berbahasa Belanda, Inggris, Perancis, Jepang, dan sebagainya, dibongkar.

Patahlah semua anutan doktor sejarah yang menyatakan NU tidak punya peran apa-apa terhadap kemerdekaan.

Ketika Indonesia pertama kali merdeka 1945, kita tidak punya tentara. Baru dua bulan kemudian ada tentara. Agustus, September, lalu pada 5 Oktober dibentuk tentara keamanan rakyat (TKR). Tanggal 10 Oktober diumumkanlah jumlah tentara TKR di Jawa saja. Ternyata, TKR di Jawa ada 10 divisi. 1 divisi isinya 10.000 prajurit. Terdiri atas 3 resimen dan 15 batalyon.

Artinya TKR jumlahnya ada 100.000 pasukan. Itu TKR pertama yang nantinya menjadi TNI. Dan komandan divisi pertama TKR itu bernama Kolonel KH. Sam’un, pengasuh pesantren di Banten. Komandan divisi ketiga masih kiai, yakni kolonel KH. Arwiji Kartawinata (Tasikmalaya). Sampai tingkat resimen kiai juga yang memimpin.

Fakta juga, resimen 17 dipimpin oleh Letnan Kolonel KH. Iskandar Idris. Resimen 8 dipimpin Letnan Kolonel KH. Yunus Anis. Di batalyon pun banyak komandan kiai. Komandan batalyon TKR Malang misalnya, dipimpin Mayor KH. Iskandar Sulaiman yang saat itu menjabat Rais Suriyah PCNU Kabupaten Malang. Ini dokumen arsip nasional, ada di Sekretariat Negara dan TNI.

Tapi semua data itu tidak ada di buku bacaan anak SD/SMP/SMA. Seolah tidak ada peran kiai. KH. Hasyim Asy'ari yang ditetapkan pahlawan nasional oleh Bung Karno pun tidak ditulis. "Jadi jasa para kiai dan santri memang dulu disingkirkan betul dari sejarah berdirinya Republik Indonesia ini."

Waktu itu, Indonesia baru berdiri. Tidak ada duit untuk membayar tentara. "Hanya para kiai dengan santri-santri yang menjadi tentara dan mau berjuang sebagai militer tanpa bayaran." Hanya para kiai, dengan tentara-tentara Hizbullah "yang mau berkorban nyawa tanpa dibayar." Sampai sekarang pun, NU masih punya tentara swasta namanya Banser, yang juga tidak dibayar.

Tentara itu baru menerima bayaran pada tahun 1950. Selama 45 sampai perjuangan di tahun 50-an itu, tidak ada tentara yang dibayar negara. Kalau mau sedikit berpikir, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya adalah peristiwa paling aneh dalam sejarah. Kenapa? Kok bisa ada pertempuran besar yang terjadi setelah perang dunia selesai 15 Agustus 1945.

"Sebelum pertempuran 10 November, ternyata ada perang 4 hari di Surabaya, yakni 26, 27, 28, 29 Oktober 1945. Kok ‘ujug-ujug’ muncul perang 4 hari ini ceritanya bagaimana? Jawabnya: Karena sebelum 26 Oktober, Surabaya bergolak, yakni setelah ada fatwa resolusi jihad PBNU pada tanggal 22 Oktober. Kini diperingati sebagai Hari Santri.

Tentara Inggris sendiri aslinya tidak pernah berpikir akan berperang dan bertempur dengan penduduk Surabaya. Perang selesai kok. Begitu pikirnya. Tapi karena masyarakat Surabaya terpengaruh fatwa dan resolusi jihad, mereka siap menyerang Inggris, yang waktu itu mendarat di Surabaya. "Sejarah inilah yang selama ini ditutupi".

Jika resolusi jihad ditutupi, orang yang membaca sekilas peristiwa 10 November akan menyebut tentara Inggris ‘ora waras’. Ngapain mengebomi kota Surabaya tanpa sebab? Tapi kalau melihat rangkaian ini dari resolusi jihad, baru masuk akal. “Oya, marah mereka karena jenderal dan pasukannya dibunuh arek-arek Bonek Suroboyo”.

Fatwa Jihad muncul karena Presiden Soekarno meminta fatwa kepada PBNU: "apa yang harus dilakukan warga Negara Indonesia kalau diserang musuh mengingat Belanda ingin kembali menguasai ???". Bung Karno juga menyatakan "bagaimana cara agar Negara Indonesia diakui dunia ???". Sejak diproklamasikan 17 Agustus dan dibentuk 18 Agustus, tidak ada satu pun negara di dunia yang mau mengakui.

Oleh dunia, Indonesia diberitakan sebagai negara boneka bikinan Jepang. Bukan atas kehendak rakyat. Artinya, Indonesia disebut sebagai negara yang tidak dibela rakyat. Fatwa dan Resolusi Jihad lalu dimunculkan oleh PBNU. Gara-gara itu, Inggris yang mau datang 25 Oktober tidak diperbolehkan masuk Surabaya karena penduduk Surabaya sudah siap berperang.

Ternyata sore hari, Gubernur Jawa Timur mempersilakan. “Silahkan Inggris masuk tapi di tempat yang secukupnya saja”. Ditunjukkanlah beberapa lokasi, kemudian mereka masuk. Tanggal 26 Oktober, ternyata Inggris malah membangun banyak pos-pos pertahanan dengan karung-karung pasir yang ditumpuk & diisi senapan mesin.

“Lho, ini apa maunya Inggris. Kan sudah tersiar kabar luas kalau Belanda akan kembali menguasai Indonesia dengan membonceng tentara Inggris,” begitu kata arek-arek. Pada 26 Oktober sore hari, pos pertahanan itu diserang massa. Penduduk Surabaya dari kampung-kampung keluar ‘nawur’ pasukan Inggris. “Ayo ‘tawur..tawuran...!”

Para pelaku mengatakan, itu bukan perang mas, tetapi tawuran. Kenapa? Gak ada komandanya, tidak ada yang memimpin. “Pokoke wong krungu jihad... jihad… Mbah Hasyim... Mbah Hasyim…”. Berduyun-duyun, arek-arek Suroboyo sudah keluar rumah semua dan langsung tawur sambil teriak ‘Allahu Akbar’ dan itu berlangsung 27 Oktober.

Mereka bergerak karena seruan jihad Mbah Hasyim itu disiarkan lewat langgar-langgar, masjid-masjid, dan speaker-speaker. Pada 28 Oktober tentara ikut arus arek2-arek, ikut gelut dengan Inggris. Massa langsung dipimpin tentara. Dalam pertempuran 28 Oktober ini 1000 lebih tentara Inggris mati dibunuh.

Tapi tentara tidak mau mengakui karena Indonesia meski sudah merdeka, belum ada yang mengakui. Itu jadi urusan besar tingkat dunia jika ada kabar tentara Indonesia bunuh Inggris. Tentara tidak mau ikut campur. Negara belum ada yang mengakui kok sudah klaim bunuh tentara Inggris. Itu semua ikhtiyar arek-arek Suroboyo kabeh.

Pada 29 Oktober pertempuran itu masih terus terjadi. Inggris akhirnya mendatangkan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk mendamaikan. Pada 30 Oktober ditandatanganilah kesepakatan damai tidak saling menembak. Yang tanda tangan Gubernur Jatim juga. Sudah damai, tapi massa kampung tidak mau damai.

Pada 30 Oktober akhirnya Brigadir Jenderal Mallaby digranat arek-arek Suroboyo. Mati mengenaskan "di tangan pemuda Ansor." Ditembak dan mobilnya digranat di Jembatan Merah. Sejarah kematian Mallaby ini tidak diakui oleh Inggris. Ada yang menyebut Mallaby mati dibunuh secara licik oleh Indonesia. Aneh, jenderal mati tapi disembunyikan penyebabnya karena malu.

Inggris marah betul. Masa negara kolonial kalah. Mereka malu dan bingung. Perang sudah selesai, tapi pasukan Inggris kok diserang, jenderalnya dibunuh. Apa ini maksudnya? “Kalau sampai tanggal 9 Nopember jam 6 sore pembunuh Mallaby tidak diserahkan, dan tanggal itu orang-orang Surabaya masih yang memegang bedil, meriam dst. tidak menyerahkan senjata kepada tentara Inggris, maka tanggal 10 Nopember jam 6 pagi Surabaya akan dibombardir lewat darat, laut, dan udara," begitu amuk jenderal tertinggi Inggris.

Datanglah tujuh kapal perang langsung ke Pelabuhan Tanjung Perak. Meriam Inggris sudah diarahkan ke Surabaya. Diturunkan pula meriam Howidser yang khusus untuk menghancurkan bangunan. Satu skuadron pesawat tempur dan pesawat pengebom juga siap dipakai. Surabaya kala itu memang mau dibakar habis karena Inggris marah kepada pembunuh Mallaby.

Pada 9 November jam setengah empat sore, Mbah Hasyim yang baru pulang usai Konferensi Masyumi di Jogja sebagai ketua, mendengar kabar arek-arek Suroboyo diancam Inggris. *“Fardhu a'in bagi semua umat Islam yang berada dalam jarak 94 kilometer dari Kota Surabaya untuk membela Kota Surabaya.”* Ukuran 94 kilometer itu adalah jarak dibolehkannya meng-qoshor dan men-jamak salat.

Wilayah Sidoarjo, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, wilayah Mataraman, Mojokerto, Malang, Pasuruan, Jombang datang semua karena dalam jarak radius 94 kilometer. 

Dari Kediri, Lirboyo ini datang dipimpin Kyai Mahrus 'Ali (salahsatu kiai pengasuh generasi awal Ponpes Lirboyo, Kediri)* *Seruan Mbah Hasyim langsung disambut luar biasa. Bahkan Cirebon yang lebih dari 500 kilometer datang ke Surabaya ikut seruan jihad PBNU.

Anak-anak kecil bahkan orang-orang dari lintas agama juga ikut berperang. Orang Konghucu, Kristen, dan Budha semua ikut berjihad. Selain Mallaby, yang juga terbunuh dalam pertempuran di Surabaya adalah Brigadir Jendral Loder Saimen. 

Luar biasa pengorbanan arek-arek Surabaya, para kiai, dan santri. Tapi perjuangan ini belum mendapatkan apresiasi yang semestinya tertulis di buku sejarah nadional Indonesia. 

Meskipun demikian umat Islam khususnya kaum sarungan cukup berbangga hati karena peristiwa resolusi jihad 22 Oktober 2021 sebagai pintu masuk terbukanya jihad melawan penjajah telah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional.

Selain itu ada banyak tokoh dari kalangan Nahdliyin yang mendapat anugerah sebagai pahlawan nasional. (Gus)


Jumat, 29 Januari 2021

Catatan Perjalanan Ansor-Banser Pacet Mojokerto

 


MENJAGA KESEIMBANGAN OLAH FIKIR DAN OLAH RAGA 

Sebuah catatan Perjalanan Ansor-Banser Pacet Mojokerto

(Titip pesan untuk GP Ansor ke depan)

Oleh : Imron Rosyadi*

Di era 2000 an, awal2 saya pulang ke kampung halaman, masih ingat betul di benak saya, kala itu ada konfrensi ancab gp Ansor Pacet di balai desa Pacet, beberapa hari sebelumnya beberapa senior gp Ansor, salah satunya almarhum Cak jito biasa dipanggil begitu, mendorong saya untuk maju bursa ketua PAC. Waktu itu juga nama saya tercatat di salah satu lembaga GP Ansor PC mojokerto, pernah mengikuti beberapa kali rapat koordinasi di PC, waktu itu ber home base di RSI sakinah. 

Waktu itu ada ke sedikit keinginan juga ingin mengabdikan ke PAC, sempat datang di Acara konfrensi itu, namun tidak masuk ke arena, karena bila masuk ke arena sama juga kami meng- iyakan diri bersedia maju  bursa ketua PAC. 

Sebab setelah kami pertimbangkan dan berduskusi dg teman2 dekat kami, kala itu sangat tidak tepat timing nya bila bila berada di arena strategis GP Ansor. Karena kala itu kami menjadi ketua PAC PKB, sangat tidak mendidik bila merangkap jabatan, apalagi jabatan politis, meski PKB era itu terasa sebaga "banomnya NU". Yg kedua, era itu adalah era olah fisik, yg lebih mengedepankan ke Banser an, nama GP Ansor, seakan tenggelam menjadi banomnya Banser. Kala itu Banser Mojokerto sangat terkenal secara Nasional dari sisi kualitas apalagi kuantitasnya, yg mengantarkan kader Ansor Mojokerto cak Muhid sebagai Satkorwil  di era cak Rofik lalu Satkornas di era Ansor nya Gus Ipul, semoga saya tidak salah.

Maka bila hari2 ini kita masih menemui kader2 ansor senior kadang2 lemah dalam menempatkan posisi Banser, kita tidak bisa menyalahkan beliau2 itu, seperti kejadian Tempo hari. 

Diantara kelebihan GP Ansor masa lalu yg tangguh dalam olah fisik, punya sisi ketidak tangguhan dalam olah fikir.

Bagaimanapun juga beliau2 adalah bagian dari tali  sejarah, yg menjadikan Pacet tidak pernah jeda selalu punya kader Banser (Ansor). Yg Alhamdulillah sambung sampai hari ini dg eranya Banser muda seperti

 Sahabat Ibad, Nuril, ngateno, #menolak duduk eh tunduk dkk. 

Sejarah masa lalu menjadi pelajaran bagi kader2 Ansor masa kini, utamanya pengurus baru PAC Pacet. Olah fisik/ olah raga dg indikator kegiatan ke"banser" an yg dinamis, yg selalu siap menjaga kyai sampai mati dan banser akan masuk syurga lebih dulu kata Gus muwafiq, idealnya harus diimbangi dg olah fikir yg dpt diukur dg kegiatan Ansor, yg sarat dg forum2 diskusi, dialog kritis, pelatihan2 resmi n rutin n wajib semacam PKD dan jenjang atasnya, entah apa namanya sekarang, maupun pelatihan ke profesian semacam Wira usaha dsb. Warnai kabinet anda kedepan dg sahabat2 dari banyak kalangab, ada pengusaha muda, PNS muda, dosen muda, ajak semua bersinergi membangun Ansor yg hebat, seimbang olah fikir dan olah fisiknya

Akhirnya selamat bekerja sahabat2 pengurus GP Ansor Pacet yg baru. JAS MERAH.. jangan melupakan sejarah... apalagi JAS IJO jangan melupakan cari bojo.

*Wakil Ketua MWCNU Pacet, kader muda NU yang produktif pemikirannya.

Jumat, 30 Oktober 2020

Tradisi Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw Di Indonesia

 


Graha NU Pacet Mojokerto-Setiap bulan Rabiul Awal masyarakat muslim Indonesia khususnya warga NU selalu menyambut dengan riang gembira. Berbagai kegiatan dilakukan demi untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.

Tradisi ini sudah ada di Indonesia sejak Islam masuk ke Nusantara. Para muballig pembawa Islam yang masuk ke nusantara memang terkenal dari kalangan ahlussunnah waljamaah. Terutama ketika Islam dikembangkan oleh  Walisongo yang berpusat di pulau Jawa. Termasuk para muballigh itu memang banyak dari keturunan Rasulullah saw yang datang dan menetap di nusantara. Dapat dipastikan mereka pasti akan memperingati maulid kakek buyutnya setiap tahunnya.

Saat itu peringatan maulid masih terbatas dilakukan oleh majelis para sayyid, istana kesultanan dan pondok pesantren. Setelah era walisongo dan berakhirnya kesultanan Islam di nusantara, tradisi ahlussunnah waljamaah secara kelembagaan dilanjutkan dan dirawat oleh para kyai Nahdlatul Ulama. Belakangan pemerintah juga ikut mengadakan peringatan maulid baik pusat maupun daerah.

Selanjutnya peringatan maulid semakin meluas di masyarakat. Hampir setiap dusun yang ada masjid, musholla, lembaga pendidikan dan jam'iyyah keagamaan akan mengadakan acara maulid. Terlebih muslim Madura, mereka yang merantau merasa wajib mudik dan berbondong bondong untuk ikut memperingati maulid nabi di kampung halamannya.

Tujuan dari peringatan maulid nabi sendiri pada awalnya untuk mempertebal kecintaan terhadap nabi Muhammad saw dan memotivasi kaum muslimin agar bertambah kuat dalam membela agama nabinya tersebut dari rongrongan kaum kafir. (Agus Sekr)

Rabu, 07 Oktober 2020

Ikhtiar Kemandirian Lewat Koperasi Syariah

 


Graha NU Pacet-Perekonomian merupakan suatu poin penting dalam mewujudkan sebuah kemandirian, kemajuan dan kemakmuran. Baik bagi individual, keluarga, lembaga dan bahkan negara.

Nahdlatul Ulama sebagai wasilah kemashlahatan umat tergerak untuk ikut membantu mewujudkan umat yang sejahtera. Melalui lembaga perekonomiannya NU mencari terobosan dan upaya baru dalam menumbuhkan semangat kemandirian. Seperti yang dilakukan oleh MWCNU Pacet Mojokerto. 

Dengan bendera koperasi syariahnya mereka berjuang menyambut masa depan umat yang lebih baik. "Awalnya kita bergerak diperdagangan sembako dan pernak pernik NU. Nanti kita perluas di bidang jasa keuangan dan travel", ungkap M Fadlan, manager koperasi syariah MWCNU Pacet.

Di era kemerdekaan dan dunia milenial ini tidak dapat dipungkiri bahwa perjuangan dan khidmah sangat membutuhkan dukungan finansial. Oleh karena itu kalau santri era 45 an berjuang mengangkat senjata demi mempertahankan kemerdekaan dan keluhuran agamanya, sekarang para santri harus berani berjuang untuk kesejahteraan umat dan dan keadilan sosial. (Agus sekr)

Sabtu, 11 April 2020

MWCNU PACET Lakukan Pendataan Ranting Secara Online

Graha NU Pacet-Dalam rangka menjaring potensi yang ada di tiap Ranting NU, MWCNU kecamatan Pacet melakukan pendataan secara online.

Kegiatan yang digagas sekretaris MWCNU Pacet, Agus Santoso, M.Pd.I ini secara serentak diumumkan dan diposting melalui grup WA Info Resmi MWCNU PACET melalui link google formulir :
https://forms.gle/yA1Bthrac2EMSJrs8
Menurut sekretaris MWCNU Pacet yang juga guru di MI Cepokolimo itu, pendataan potensi ranting saat ini harus dilakukan secara tepat dan cepat. Salah satunya menggunakan IT online. "Apalagi saat ini negara kita sedang dilanda virus corona, maka salah satu pendataan yang tidak perlu ada kontak fisik yaitu melalui google formulir", pungkasnya.

Dia juga memberikan alasan, karena 100 persen ketua dan pengurus ranting sekarang ini sudah menggunakan HP android. "Maka harus dibudayakan memanfaatkan kecanggian teknologi tersebut untuk mendukung perjuangan di NU", imbuhnya.

Pendataan yang dilakukan meliputi struktur kepengurusan Ranting NU dan Banom ranting. Juga pendataan terkait tempat ibadah, kegiatan jamiyah, lembaga pendidikan, panti asuhan, pondok pesantren dan kemajemukan warga yang ada di tingkat ranting atau desa.

Seluruh data ini nantinya akan dijadikan data base dan menjadi rujukan peta dakwah di kecamatan Pacet. Disamping itu MWCNU Pacet juga ingin berkontribusi dalam rangka menyongdong satu abad NU yang tentunya harus lebih maju dan akuntabel. (Agus sekr)

Rabu, 11 Maret 2020

NU BRAND ENRICHMENT


Sebuah Refleksi Harlah NU khusus warga NU Pacet Mojokerto
Oleh : H. Imron Rosyadi

Kemandirian... akhir2 ini menjadi trending topic di NU. Meski bukan merupakan hal baru, karena sejak berdirinya sudah mandiri. Tapi perbedaan kemandirian akhir2 ini ada titik tekan kuat pada pergerakan ekonomi. Dg koin NU sebagai pijakan awal untuk melangkah ke langkah2 berikutnya.. ada yg mendirikan BMT, mini2 market, penyertaan modal pada kegiatan2 usaha dsb. Dengan basis yg kuat sebagai organisasi terbesar di indonesia mgkin di dunia bahkan di akhirat, seloroh seorang cendikiawan dari yogya. Maka bentuk2 usaha itu "seharusnya" sukses.

Fokus pada pendirian bentuk2 usaha itu tampaknya sangat simpel /mudah. Kita tinggal mendirikan koperasi lalu turunan koperasi itu lahirlah BMT, minimarket. Sederhana sekali. Modal dari mana.. kita punya koin yg menjadi ujung tombak penggalangan dana yg saat ini sudah sangat masif/tersebar di warga NU. Kita punya anggota maupun pengurus sudah kawak an  dalam mengelola usaha pribadi.

Tapi tantangannya apakah secara institusi atau kelembagaan NU punya brand bisnis?, ketika kita ingat NU apakah serta merta dalam brand image kita atau kesadaran kita yg pertama adalah sebuah lembaga yg punya gerakan ekonomi dan sukses.

 Sebagai contoh sebuah brand ( merk/klaim ) yg melekat pada seseorang (personal branding) di kampung2 kita apabila menyebut nama seseorang, maka sering kali ada tambahan, P. Ahmad Ayam.. karena dia seorang peternak ayam yg sukses.
Dulu ketika menyebut Wings, maka ingatan pertama kita adalah sabun, tapi sekarang ada enrichment brand atau penambahan brand, sebuah ilustrasi, bicara wings maka ingatan yg muncul bukan hanya sabun tp ada pruduk Mi instan/ mi Sedap dsb. Nah penambahan atau pengayaan  image2 itu idealnya NU miliki, brand yg berkembang dimasyarakat tidak harus gerakan2 sosial keagamaan ansich, tapi ada gerakan ekonomi, shg NU juga diakui bertangan dingin dalan mengininisiasi atau menjadi pionir dalam pengembangan ekonomi.

Ada 2 catatan perjalanan yg bisa diambil pelajaran,

Ketika kami /MWC Pacet ke Ngasem Bojonegoro yg kondang sbg MWC yg langkah ekonomi moncer se Jatim bahkan se Indonesia. Untuk belajar tentang BMT, pada kesimpulannya Ngasem merekomendasikan, lakukan dulu koinisasi dg baik, BMT urusan mudah bila koin itu terkelola dg baik.
Dalam benak kami, ngasem me "warning" betapa susahnya ngurusi hal yg berkaitan dg ke "amanahan" uang.

Begitu juga ketika kami ke Sidogiri yg terkenal sukses dg BMT nya lalu disusul dg usaha minimarketnya. Inti sarannya adalah penting nya jam terbang NU secara institusi untuk melakukan usaha ekonomi. Sidogiri sebelum punya BMT besar, pondok itu punya usaha suplier sembako yg dirintis pengasuhnya dan memperoleh sambutan pisitif dari masyarakat.

Tidak perlu besar untuk memulai sebuah laku branding ini, sebagai contoh MWC Pacet punya gedung besar meski sederhana tapi  layak sewa untuk calon penyewa yg rasional (hemat anggaran). Asal dikelola baik/profesional, ada ruang resepsi yg bersahabat, ada yg menunggu tiap hari dg layanan ramah, harga yg terstandart dg patokan yg jelas. Insya Allah akan menjadi batu loncatan yg baik bagi info yg berkembang di masyarakat riel maupun maya (netizen) yg akan memberikan pengakuan bahwa NU juga profesional kelola lembaga usahanya, bahasanya netizennya mgkin akan dapat bintang di akun googlenya Graha NU.

Langkah diatas disadari betul oleh kalangan muda NU pacet, diskusi2 atau forum rebo malam yg diinisiasi LAZIZNU berproses lama sehingga salah satunya meng ekskusi langkah nyata sebuah rencana bangunan ruang resepsionis yg layak, kantor koin yg gampang diakses online maupun ofline, ruang kongkow2 yg nyaman tapi semua gagal di tengah jalan oleh sebuah veto. Meski semua sudah siap dan termulai.

Kenyataan ini adalah sebuah potret yg benar2 nyata. Ada banyak hal internal NU  yg harus diperbaiki, tantangannya bukan faktor eksternal. Penyadaran, kesabaran,  kerendahan hati, belajar dan istikomah adalah keniscayaan yg harus dipunyai aktivis NU.
Semua adalah proses, selamat mengabdi dan berjuang untuk kejayaan NU.

Wallahu 'a'lam bisshawab

Kamis, 14 November 2019

Pentingnya Menyiapkan Kader Penggerak Untuk Menyongsong 100 Tahun Nahdlatul Ulama


(Oleh : Agus Santoso, Sekretaris MWCNU Pacet Mojokerto)

Ketika memperingati harlah RSI Sakinah ke 29 di hotel Ayola Sunrise Mojokerto (26/10/2019) ada hal menarik yang disampaikan oleh Prof. DR. Muhammad Nuh, DEA dalam orasi ilmiahnya.

Beliau mengibaratkan kita (warga NU) ini sedang ditinggal pergi orang orang tua (Masyayikh) kita dalam waktu yang lama dan mungkin mereka akan kembali untuk menjenguk kita setelah kurun waktu 100 tahun.

Pertanyaanya, ketika mereka datang kembali menjenguk, apa yang akan kita suguhkan untuk menyambut dan  menyenangkan hati mereka. Apa yang akan kita ucapkan untuk menjawab pertanyaan mereka. Akankah kita nanti pantas disebut sebagai anak yang sholih atau tidak.
Inilah yang musti kita persiapkan dalam menyongsong 100 tahun Nahdlatul Ulama di tahun 2026.

Kesholehan itu tergantung bagaimana kita selaku pengemban amanat mampu menampakkan keberhasilan. Baik dari sisi pengelolaan organisasi, merawat dan mengembangkan ideologi aswaja an nahdliyah, menjaga silaturrahmi,  mencetak kader dan tidak kalah pentingnya berusaha mandiri untuk memberikan kemanfaatan yang lebih besar. NU itu besar dan harus dipandang sebagai sesuatu yang besar. Maka jangan sampai yang besar itu terlihat kecil karena ketidak berdayaan.
Sebagaimana sabda Rosululloh saw. Sebaik baik manusia adalah yang paling banyak bermanfaat bagi manusia lainnya. Begitu pula NU, sebaik baik jam'iyah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.

Oleh karena itu perlu adanya evaluasi diri secara terukur dan terorganisir dari semua tingkatan struktural NU termasuk Banomnya. Apa saja yang sudah kita perbuat, kita capai dan yang akan direncanakan. Sejauh mana amanat dan program yang sudah kita laksanakan. Tentu pertanyaan ini membutuhkan kemauan, keberanian dan keikhlasan untuk menjawabnya. Kita sadar tantangan zaman semakin besar.

Alhamdulillah saat ini telah tampak perubahan menuju muara kebangkitan  besar itu. Gerakannya menyentuh di berbagai bidang. Diantaranya  pemantapan ideologi aswaja, pendidikan, kesehatan, sosial dan perekonomian. Sehingga hari ini mulai banyak kita jumpai Universitas NU, Rumah Sakit, madrasah favorit, NUsantara Mart, BMT, dan lain lain. Selain itu kepedulian terhadap yatim, dhuafa, korban bencana alam dan lain lain juga semakin terasa.

Bagi kita yang bersentuhan langsung dengan kegiatan NU di masyarakat, salah satu faktor pendorongnya adalah suksesnya mencetak kader NU yang militan melalui PKPNU. Setelah mengikuti pendidikan selama tiga hari mereka akan kembali dan menyatu dengan lembaga NU serta Banomya dan bersama sama menghidupkan organisasi secara mandiri.

Dari situlah pemikiran kritis dan dinamis dimulai kembali. Baik untuk menjaga ideologi, semangat organisasi maupun kreatifitas kemandirian.
Banyak ranting NU yang tumbuh kembang begitu cepat bahkan melebihi kapasitas struktural diatasnya setelah kadernya banyak yang mengikuti PKPNU. Tentu ini kabar baik yang harus cepat direspon agar  melimpahnya kader menjadi sebuah tenaga pendorong kebangkitan NU dan bukan  malah menjadi beban organisasi. Itulah harokah kebangkitan yang seimbang dan terarah.

Salah satu RTL PKPNU yang sederhana tetapi amat besar manfaatnya adalah gerakan kotak infaq NU (koinisasi).  Koinisasi merupakan salah satu pintu kemandirian yang penting karena secara kultural lebih akrab dengan kondisi perekonomian warga nahdliyin yang sebagian besar menengah ke bawah.

Kita menyadari meskipun koinisasi sudah dicanangkan menjadi gerakan nasional khas NU akan tetapi masih minim kordinasinya. SOP nya masih bersifat lokal dan belum terorganisir sampai pusat. Sehingga perolehan infaq bisa subur di suatu lokasi sedangkan tempat lainnya tidak.
NU Care Lazisnu sebagai lembaga pelaksana resminya perlu menata menejemen operasionalnya secara profesional dan amanah untuk menjaga kredibilitas di masyarakat. Sedangkan para kyai dan pengurus NU yang lain memberikan dukungan dan  sosialisasi  kepada warga NU agar zakat, infaq dan sedekah mereka bisa dikelola, semakin besar dan bermanfaat.

Melalui koinisasi banyak ranting NU dan MWCNU berhasil menjalankan organisasi dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi umat. Bahkan banyak yang sudah mencanangkan mendirikan kantor Ranting NU seperti yang dilakukan Ranting NU Kesemen Ngoro Mojokerto (12/11/2019). Sesuatu yang mungkin hari ini baru terjadi.

Awal gerakan kebangkitan NU melalui PKPNU inilah yang musti kita tingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Saat ini banyak terobosan yang dapat dilakukan untuk mencetak kader sebanyak mungkin. Diantaranya melalui pondok pesantren dan lembaga pendidikan formal menengah ke atas.

Contohnya tanggal 8 November 2019 baru baru ini ponpes Bidayatul Hidayah Mojogeneng Jatirejo melaksanakan PKPNU khusus bagi Santri dewasa dan kelas XII Madrasah Aliyah. Pesertanya mencapai 300 orang. Tentu ini amat baik sebagai upaya membekali  generasi muda NU dengan ajaran aswaja yang benar. Apalagi kelak mereka masuk ke perguruan tinggi dan bergaul dengan berbagai macam karakter teman dan pemikirannya.

Ada pula perguruan tinggi yang mewajibkan calon wisudanya mengikuti PKPNU seperti yang dilakukan Institut KH Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto pada tanggal 16 November 2019 mendatang. Tujuannya jelas agar para lulusannya dapat mengembangkan aswaja an nahdliyah di lingkungan pendidikan, tempat kerja dan masyarakatnya kelak.

Inilah sekelumit cerita yang dapat kita jadikan sebagai bahan referensi dan evaluasi untuk selalu berinovasi guna menyongsong kebangkitan NU di tahun ke 100 kelahirannya. Sebagaimana slogan NU, "al muhafadhotu alal qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah". Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil  hal baru (inovasi) yang lebih baik.

Selasa, 08 Oktober 2019

Konstruksi Aswaja Di Indonesia


Konstruksi Sunnisme Kalangan Tradisionalis Islam di Indonesia
(analisis kritis atas formulasi ASWAJA – NU) *
Oleh :
H.Abdullah Syamsul A, S.Ag. M.H.I. **

Taqdim


Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah , yang dalam khazanah  barat disebut Sunnisme, adalah sebuah ideologi (faham keagamaan) yang memiliki nuansa dinamis. Dinamikanya bisa dilihat dari keragaman masing-masing kelompok pendukungnya dalam mengaktualisasikan ideologi ini. Keragaman tersebut timbul dari perbedaan pendekatan atau cara pemahaman pendukungnya terhadap ideologi  Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.  Selain itu disebabkan perbedaan konteks historisitas di mana dan kapan ideologi ini diaktualisasikan.
Di Indonesia. Diskursus  Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah memiliki nuansa yang khas. Ideologi ini diakui oleh mayoritas umat Islam, walaupun wujud aktualisasinya berbeda-beda antara satu kelompok dengan kelompok yang lainnya. Di sinilah, Nahdlotul ‘Ulama’ (NU) merupakan salah satu fariannya. Organisasi Islam dengan jumlah massa terbesar ini mempertegas jati dirinya sebagai “pembela” Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah   - - yang dilingkungan NU lebih akrab disebut dengan akronim  “ASWAJA” - -.
Makalah ini akan memfokuskan kajiannya pada karekter paham keagamaan NU untuk kemudian mencoba menakarnya dengan konsep Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.




Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah : Dalam Lintasan Historis, Politik dan Pemikiran.

Sejarah telah menuturkan, Walaupun ajaran dasar tentang sunnah dan Jama’ah ada dalam al-Qur’an dan Hadits, namun perkataan al-Sunnah dan al-Jama’ah sebagai idiom sosial-keagamaan Islam muncul setelah beberapa peristiwa politik dalam sejarah dini Islam. Kaum sunni atau Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah,  sebagai golongan adalah “produk” sejarah, politik dan pemikiran Islam.
Apabila kita mau menelusuri dan menganalisa dengan cermat, maka kita akan memahami bahwa ide paham sunni tidak dapat dilepaskan dari bibit-bibit perpecahan dikalangan umat Islam yang sudah tumbuh mulai dari masa Nabi SAW, dan beliau sendiri sangat memprihatinkan hal itu dan mengemukakan antisipasi-antisipasi. Fenomena yang mengindikasikan bagi potensi perselisihan dan perpecahan itu adalah suatu ironi yang terjadi pada diri Rasul Allah SAW sendiri : yaitu ketika beliau wafat, jenazah beliau tidak segera dikebumikan, dan baru bisa terealisasi tiga hari kemudian. Hal ini sama sekali tidak sesuai dengan petunjuk-petunjuk beliau.  Kalau kita cermati apa yang terjadi selama tiga hari tersebut?, tidak lain ialah pertikaian politik tentang siapa yang akan menggantikan beliau dalam kapasitas selaku kepala negara. Dengan diangkatnya Abu Bakr yang disponsori ‘Umar, persoalan itu memang dapat terselesaikan(sementara), namun bibit-bibit pertikaian itu tidak semuanya dapat dimusnahkan.
Meletusnya peperangan  antara ‘Ali dengan basis kufah di Irak dan Mu’awiyah dengan basis Damasakus di Syiria yang sempat memakan korban ribuan jiwa para sahabat Nabi, kiranya dapat dijadikan sebagai bukti sejarah bahwa bibit-bibit perpecahan itu memang belum pupus sama sekali. Pertikaian yang memicu terjadinya perang yang kita kenal dengan sebutan perang siffin itu sejenak memang dapat dihentikan. Tapi ia masih menuntut korban lagi yaitu jiwa ‘Ali sendiri, Khalifah bijak yang ke tiga. Tidak lama setelah itu, berdasarkan penuturan cerita yang cukup variatif, Hasan, putra ‘Ali yang telah dinobatkan untuk menggantikannya, turun dari kedudukannya, pada tahun 41 H. dan menyerahkan urusan pemerintahan kepada Mu’awiyah. Peristiwa tersebut nampaknya sangat melegakan umat Islam, dan tahun itupun disebut ‘a>m al-Jama>’i,   tahun persatuan menyeluruh. Karena sudah sekian lamanya umat bertikai, maka persatuan kembali itu membangkitkan kenangan manis masa-masa ‘Abu Bakr dan ‘Umar.  Dengan modal itu program-program politik dapat dimulai lagi, khususnya ekspansi yang sempat tertunda bertahun-tahun. Akan tetapi, karena bibit-bibit pertikaian tadi memang belum dapat diberangus secara keseluruhan, maka tidak lama kemudian peristiwa karbala yang amat memilikun terjadi, ketika Husein putera ‘Ali, terbunuh dengan sangat sadis oleh tentara Yazid bin Mu’awiyah, yang saat itu telah menggantikan kedudukan ayahnya sebagai penguasa. Peristiwa itulah yang membangkitkan sentimen simpati dan dukungan yang luar biasa kepada keluarga ‘Ali, yang kemudian sentimen itu mengkristal menjadi gerakan yang sangat teguh dan bersemangat. Mereka itulah yang disebut kaum syiah, dengan jargon utamanya penegakan keadilan dan pembelaan kepada kaum yang lemah.
 Konfrontasi-konfrontasi terus terjadi, di Hijaz misalnya, telah meletus pertikaan besar antara ‘Abd Allah bin Zubair (keluarga dekat ‘Aisyah, istreri tercinta Nabi) yang memberontak terhadap rezim Damaskus. Pertikaian tersebut baru dapat dihentikan setelah Abd Allah bin Zubair terbunuh. ‘Abd al-Malik bin Marwan, penguasa Damaskus pada saat itu, berupaya keras agar pembrontakan-pembrontakan bisa dihentikan, dan dunia Islam dapat dipersatukan kembali. Dengan berbagai cara ia berusaha untuk dapat menggunakan etos jama’ah dan mengukuhkannya dengan sebaik-baiknya. Upaya itu nampaknya cukup berhasil, serta mampu melahirkan proses arabisasi (Islamisasi) yang ujung-ujungnya menghasilkan terbentuknya Dunia Arab yang terbentang dari Bahrain di Timur sampai Maroko di Barat.
Namun demikian, kenyataan yang selalu didambakan ini, tidak berlangsung lama. Sebab menjelang akhir abad pertama Hijriah, Dinasati klan  yang pernah menjadi musuh bebuyutan Klan Nabi (Bani Hasyim), mulai menampakkan tanda-tanda keruntuhannya. Saat itulah tampil Tokoh yang besar peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan golongan sunni, yaitu Khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-Aziz, yang kerap sekali dijuluki al-Khalifah al-Khamis ( khalifah yang kelima dari empat Khulafa’ al-Rasyidin sebelumnya). Ia mengulangi usaha membangkitkan etos Jama’ah, namun kali ini dengan format keagamaan yang saleh dan lebih bersungguh-sungguh. Ia canangkan persatuan universal umat Islam yang meliputi seluruh golongan, tanpa peduli tentang aliran sosial politik keagamaan masing-masing. Secara simbolik ia wujudkan gagasannya itu dengan mengakui keabsahan empat khalifah pertama, termasuk ‘Ali yang sejak semula tidak diakui oleh rezim Damaskus. Dengan sendirinya programnya itu juga meliputi golongan-golongan syiah dan khawarij, dua kekuatan “subversif” yang sangat berbahaya bagi rezim Damaskus. Mereka menyambut gagaasan inklusif ini, sekaligus memanfaatkannya. Tapi nampaknya ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz cukup tulus dengan agendanya itu, dan iapun segara mendapatkan dukungan yang antusias dari masyarakat Madinah, yang selama ini bersikukuh memilih netral dalam menatap persoalan politik yang terjadi.
Dengan adanya dukungan yang riil dari komunitas madinah, maka khalifah ini mulai mengarahkan pandangannya ke kota Nabi tersebut, dan ia meminta kepada salah seorang sarjana terkemuka saat itu, yang bernama Syihab al-Din al-Zuhri untuk meneliti dan mencatat “Sunnah” penduduk kota Nabi itu. Dengan gembira ia menyambut perintah itu, dan memulai untuk mengorek dari komunitas Madinah segala sesutu yang terkait dengan Nabi yang telah mereka hafal turun temurun, baik perkataan, perbuatan maupun sikap Nabi itu. Dan Dari sinilah mulai terjadi gerakan penghimpunan dan pencatatan segala sesuatu yang bersumber dari Nabi, yang kemudian tumbuh menjadi sumber ajaran islam yang ke dua. Tetapi Usaha Kodifikasi Hadits sebagai agreget konsolidasi sunni berlangsung cukup lama dengan rentangan waktu satu abad lebih. Proses itu harus terlebih dahulu menyaksikan tampilnya seorang ahli dan pencipta teori kritik hadits yaitu Muhammad bin Idris al-Syafi’i (150-204 H). Syafi’i sangat prihatin dengan mudahnya orang menuturkan hadits, sehingga terjadi kekacauan antara yang absah dan yang palsu. Metode syafi’i diikuti dan mempengaruhi para tokoh pemikir Islam saat itu. Namun demikian, teori kritik yang dibangun syafi’i baru terlaksana dengan baik sekitar setengah abad kemudian, dengan tampilnya al-Bukhari. Dan sang perintis ini kemudian diikuti oleh Muslim, al-Tarmidzi, al-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibn Majah. Mereka menghasilkan apa yang kita kenal sekarang dengan “al-Kutub al-Sittah” referensi bidang Hadith yang dianggap paling baku dikalangan sunni.
Setelah masa itu, proses kodifikasi bisa dianggap final dengan telah lahirnya enam kitab (disamping kodifikasi-kodifikasi lain) yang diklaim sebagai rujukan  baku kaum sunni dalam bidang hadits.  Akan tetapi, perang pemikiran yang disertai dengan truth claim terus mewarnai sejarah perjalanan pemikiran Islam, dan kali ini berada pada wilayah bagaimana masing-masing kelompok sosial politik keagamaan itu memahami kedua sumber ajaran Islam tersebut. Pertikaian antara mana yang benar dan salah dalam pemahaman agama Islam merembet ke bidang-bidang lain, utamanya dalam bidang aqa’id . Perbedaan-perbedaan dalam hal ini semakin menumbuh suburkan terciptanya kelompok-kelompok sosial politik keagamaan yang memiliki pola pemahaman keagamaan yang berbeda dan saling mengklaim bahwa dirinyalah yang paling benar. Kelompok-kelompok inilah yang dalam khazanah Islam dikenal dengan istilah firqah.
Kelompok-kelompok yang menyatakan sebagai pembela sunnah pun turut ambil bagian dalam hal ini. Dan nampaknya agak ironis, bahwa  konsolidasi faham sunni di bidang ini diselesaikan oleh seorang bekas “kader” Mu’tazilah, saingan kaum sunni, yaitu Abu al-Hasan al-Asy’ari. Ia sedemikian suksesnya dalam garapannya itu, sehingga saat ini hampir seluruh dunia Islam sunni mengikuti teori dan metodologinya. Rumusan Teologi yang dicetuskan oleh al-Asya’ari (yang sekarang kita kenal dengan istilah ASWAJA) diperkuat oleh al-Maturidi dan dikembangkan oleh al-Baghdadi, al-Baqillani dan al-Juwaini, sehingga mengantarkan konsep teologi ini kepada suatu tahap baru, yaitu sebagai suatu madzhab yang boleh dikatakan “sempurna” untuk menjawab seluruh tantangan teologis yang berkembang pada abad ke-4 s/d ke-5 H. Teologi ini bergerak semakin leluasa pada masa al-Ghazali (antara tahun 450 s/d550 H) sebagai akibat dukungan tidak langsung dari seorang menteri bernama Nidzam al-Muluk. al-Ghazali sendiri juga pro aktif dalam mengembangkan teologi Asya’ari terutama dalam bukunya yang berjudul al-Iqtishad fi al-I’tiqad. Sejak masa al-Ghazali inilah teologi Asy’ari berkembang dengan pesat karena wataknya yang moderat (al-I’tidal). Berdasarkan realitas ini, banyak kalangan yang menilai bahwa ditangan al-Ghazali inilah paham sunni memperoleh konsolidasinya yang terakhir dan “final”. Kemampuan intelektual al-Ghazali yang luar biasa dan cakupan ilmunya yang meliputi praktis seluruh kajian keislaman, menjadikannya mampu mempengaruhi dunia Islam. Dan ia pun disebut “Hujjat al-Islam” (bukti kebenaran Islam).

 

Hakikat ASWAJA


Bertolak dari beberapa uraian di atas, nampaknya hal yang perlu ditegaskan di sini adalah suatu fakta yang menunjukkan bahwa ASWAJA merupakan gerakan pemikiran dan purifikasi tentang ajaran Islam. Dalam konteks ini orang barat menyebutnya dengan istilah Ortodoks Sunni School:; suatu lembaga yang berusaha memurnikan kembali ajaran Islam, di mana pada waktu itu telah terjadi penyimpangan. Pemurnian itu dialamatkan kepada kelompok MU’TAZILAH, satu sekte dalam teologi Islam yang dianggap banyak  melakukan penyimpangan, terlebih karena terlalu bebas menggunakan akal pikiran. Sehingga kelompok ini menurut ASWAJA digolongkan dalam  ahl al-Bid’ah. Oleh karena itu, ASWAJA merupakan kelompok yang berusaha memulihkan interpretasi terhadap ajaran Islam agar sesuai dengan “ma> ana> ‘alaih wa ashha>bi>”, yang lebih populer dengan hadits ASWAJA. Adapun secara trminologis istilah ASWAJA awalnya adalah sekedar nama dan bukan sebuah institusi formal. Artinya ASWAJA sejak zaman sahabat sudah ada, tetapi baru bisa menjadi lembaga formal ketika masa al-Asy’ari, dalam kerangka menghadapi kelompok yang disebut ahl al-Bid’ah. Sehingga para pemikir Islam saat itu merasa perlu merumuskan acuan yang dianggap ASWAJA, baik dibidang fiqh, teologi, tasawuf maupun bidang akhlaq. Dengan demikian, kelompok-kelompok sebelum al-Asy’ari yang mempunyai karakteristik gerakan yang sama; yaitu menampilkan Islam sesuai dengan “ma> ana> ‘alaih wa ashha>bi>”, seperti gerakan Ahmad bin Hanbal dan Hanabilah yang dikenal dengan sebutan Ahl al-Hadits juga dikatagorikan ASWAJA. Bahkan dalam berbagai kesempatan Asy’ari sendiri sangat memuji kelompok ini, seperti yang dinyatakannya secara eksplisit dalam bukunya yang bernama “ al-Ibanah ‘an Ushul al-Diyanah”.


Posisi Doktrin ASWAJA dalam Jam’iyah NU


Sikap NU yang menempatkan ASWAJA seabagai Doktrin teologis serta acuan dalam peribadatan, muamalah dan tasawuf, menunjukkan suatu kesadaran historis dikalangan Nahdliyyin untuk menilai sekaligus memilih rumusan yang dianggap paling “benar” dan paling “mashlahah”  dalam wacana perkembangan pemikiran islam. Tetapi, jika kita perhatikan dari sudut kronologi sejarah dan urutan-urutan waktu, tokoh-tokoh yang dijadikan “panutan” dalam rumusan ASWAJA itu, antara yang satu dengan yang lain nampak tidak “nyambung”. Sebab, misalnya, antara perintis madzhab empat yang terdiri dari Imam Malik (80-150 H), Imam Hanafi (93-179 H), Imam Syafi’i (150-205 H) dan Imam Ahmad Ibn Hambal (164-241 H) dengan dua perumus teologi ASWAJA, yakni  al-Asy’ari (260-235) dan al-Maturidi (-333 H), terdapat senjang waktu yang cukup lama. Dalam arti, tidak mungkin perintis empat madzhab fiqih itu, secara teologis, mengikuti rumusan al-Asy’ari dan al-Maturidi. Yang terjadi malah sebaliknya. Dua perumus teologi Sunni itu, dalam bidang fiqih, mengikuti Madzhab Syafi’i dan Hanafi. Padahal teologi atau “aqidah” menjadi ukuran utama dalam ASWAJA. Contoh lain, adalah tokoh yang dianggap sebagai perumus tasawuf ASWAJA, Junaid al-Baghdadi (-297 H). Karena ia lahir dan merumuskan pemikiran tasawufnya sebelum al-Asy’ari dan al-Maturidi, maka mustahil, secara teologis, ia mengikuti rumusan teologi al-Asy’ari dan al-Maturidi. Oleh karena itu, rumusan NU tersebut semestinya mengandung beberapa implikasi untuk mengembangkan dan menetapkan pemahaman ASWAJA diatas. Pertama, Penelitian lebih mendalam terhadap karya-karya teologis al-Asy’ari dan al-Maturidi, karya-karya fiqih imam madzhab empat dan karya-karya tasawuf al-Ghazali dan junaid al-Baghdadi. Kedua, Studi historis terhadap aliran-aliran yang pernah menjadi pendukung ASWAJA dan penentangnya. Ketiga, Studi perbandingan dan keterpaduan terhadap seluruh produk pemikiran para tokoh yang disebut dalam rumusan ASWAJA. Keempat, Merekonstruksi kembali rumusan ASWAJA diatas, jika ternyata, berdasarkan penelitian, produk pemikiran para tokoh yang disebut dalam rumusan ASWAJA itu saling bertentangan dan kontradiktif, apalagi sulit diterima secara rasional.
Implikasi semacam ini, sepanjang sejarah NU, belum pernah dilakukan; bahkan mayoritas kalangan tokoh Nahdliyyin tidak berusaha secara serius untuk mengkaji sumber pertama, berupa kitab-kitab yang ditulis oleh para tokoh peletak dasar doktrin ASWAJA itu. Yang berkembang dikalangan Nahdliyyin adalah malah sumber Kedua, Ketiga, bahkan sumber keempat dan kelima yang umum dijadikan landasan teologis normatif bagi sikap dan pola pikir mereka.
Sebagai contoh, dalam bidang teologis kita lebih akrab dengan karya al-Juwani, al-Baqillani, al-Nasafi, al-Sanusi dan Sayyid Ahmad Al-Marzuqi dibandingkan dengan karya-karya al-Asy’ari dan al-Maturidi sendiri. Dalam bidang Fiqh, kita lebih akrab dengan karya-karya al-Nawawi, al-Rafi’i dibandingkan dengan al-Syafi’i, Malik, Ahmad Ibn Hanbal dan yang lain-lain. Dalam bidang tasawuf, kita memang akrab dengan al-Ghazali, tetapi itu hanya terbatas pada Ihya’ Ulum al-Din dan Bidayah al-Hidayah,  disamping mitos dan managip. Syeikh Abdul Qadir al-Jailani. Sedang karya-karya Junaid al-Baghdadi mungkin masih asing dalam wacana pemikiran kalangan elit Nahdliyyin. Oleh karena itu, jika ada studi yang menghasilkan kesimpulan yang kontradiktif dan antagonistik antara para tokoh yang disebut dalam rumusan  “ASWAJA” versi NU itu, kita tidak perlu kaget. Karena memang kita belum pernah melakukan studi serius. Contoh-contoh berikut ini mungkin bisa memperjelas soal diatas itu.
Pertama,  Imam Malik, Hanafi dan Syafi’i, dalam lapangan politik, lebih cendrung kepada Syi’ah, karena kecintaan mereka terhadap ahl al-Bait yang dalam sejarah memang  terus menerus mengalami penindasan. Tetapi kecintan mereka itu tentu tidak membuat mereka meyakini teologi Syi’ah yang tidak mengakui keabsahan al-Khulafa’ al-Rasyadin selain ‘Ali. Sebab teologi Syi’ah sebagai madzhab baru dirumuskan pada abad ke –3 H/ ke –9 M, dengan menjadikan hadith Ghadir khum sebagai dasar klaim teologi politik Syi’ah – hal yang harus diperdebatkan.
Kedua, Ahmad Ibn Hanbal, menurut Ibn Jarir al-Thabari dalam kitab al-Khilaf, sebetulnya bukan seorang  Faqih, tetapi hanyalah seorang Muhaddist. Sebab kemampuan dalam ber-istinbat dari al-Qur’an dan al-Hadist hampir tak ditemukan. Ia menjadi tokoh madzhab, karena “dibesarkan” oleh para pengikutnya, terutama Ibn Taimiyah dan Muhammad ibn Abdul Wahhab.
Ketiga, Teori tasawuf al-Ghazali yang dikenal selama ini oleh kalangan sunni hanyalah sebatas pemikiran yang ia kemukakan dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din.  Dalam kitab ini pemikiran tasawuf al-ghazali memang terlihat warna sunninya. Akan tetapi, dalam kitab-kitabnya yang lain, teori tasawufnya lebih mendekati al-Hallaj, terutama dalam  konsep  Wihdah al-Wujud. Bahkan al-Ghazali secara inplisit mengemukakan kekagumannya terhadap teori Fana’ dan  hululnya  al-Hallaj dalam Ihya’ Ulum al-Din, ketika membahas tingkatan iman. Jika penemuan diatas dapat dibenarkan, maka teori tasawuf al-Ghazali masih harus diperdebatkan keabsahannya dikalangan ASWAJA.
Keempat, Teori tasawuf al-Junaid boleh dikatakan sangat asing dari pendengaran kita. Yang menjadi pertanyaan, sumber apa yang digunakan oleh para perumus “ASWAJA” versi NU sehingga mengadopsi teori tasawuf al-Junaid itu sebagai acuannya? Di linkungan pesantren sendiri, kepustakaan tentang atau oleh al-Junaid sendiri hampir tidak dikenal, kecuali beberapa kutipan pendapatnya dikitab-kitab yang ditulis orang lain. Padahal, dalam sebuah artikel pendek yang ia tulis dan dikumpulkan dalam  Rasa’il al Junaid, al-Junaid  malah nampak cendrung memihak kepada pendukung peniadaan sifat tuhan (Nafi al-Shifat) yang lebih mirip dengan pikiran Mu’tazilah dan bertentangan dengan teologi al-Asy’ari.
Dari keempat contoh diatas, jelaslah bahwa rumusan ASWAJA yang selama ini kita terima perlu pengembangan dan evaluasi, melalu studi yang serius. Hal ini sangat penting karena ASWAJA bagi NU adalah landasan  gerak, berfikir dan bersikap.
Sebetulnya, rumusan ASWAJA  ‘a la NU diatas dapat dikatakan “cukup baik dan tepat”, jika disertai penelitin dan pendalaman hal-hal sebagai berikut :
1.      Bahwa para tokoh yang disebut dalam rumusan ASWAJA itu adalah pemikir yang produk intelektualnya meliputi tiga bidang asasi hidup kaum muslimin, yakni teologi, fiqh dan tasawuf.
2.      Diantara para tokoh tersebut, dalam beberapa hal, terdapat kecocokan, disamping ada perbedaan, bahkan pertentangan yang antagonistik, seperti telah diungkapkan diatas.
3.      Kajian historis terhadap aspek-aspek kehidupan sosial politik yang terjadi sejak Rasulullah wafat sampai pada masa hidup para tokoh yang disebut dalam rumusan ASWAJA iti sangat penting. Kajian itu juga mesti disertai analisis tentang relevesinya dengan kehidupan sekarang dan masa yang akan datang.
4.      Kajian historis terhadap aliran-aliran (yang masih dalam lingkup Islam) yang dalam banyak hal bertentangan dengan doktri ASWAJA.
Dari produk kajian tersebut, kita akan dapat menampilkan sosok ASWAJA yang lebih jelas, simpatik, meyakinkan, transparan, dan tidak ekslusif.
                                                                                              
085731873836

Identitas Aswaja NU


Dari beberapa uraian di atas, nampak dengan jelas bahwa Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah versi NU, ialah pola keagamaan bermadzhab, yakni mengikuti petunjuk-petunjuk generasi muslim sebelumnya dalam memahami nash-nash agama (al-Qur’an dan al-Hadits). Epistimologi dan performen ASWAJA yang demikian ini, tentu saja sangat tipikal, tidak persis sama  dengan konsep Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah  yang bisa disentasakan dari perjalanan sejarah aliran-aliran keagamaan umat Islam.
Pada masa tertentu (sebelum abad ke 5 H), ASWAJA dinisbatkan kepada Ahl al-Hadits yang pernah dipresentasikan oleh Ahmad bin Hambal atau Hanabilah. Paham keagamaan yang dikembangkan adalah tekstualis, anti takwil dan berparadigma “mendahulukan yang ma’tsur/tekstual dari pada yang ma’qul/rasional). Sedangkan saat yang lain (paroh terakhir abad   ke-5 H), ASWAJA lebih dinisbatkan pada eksistensi pemikiran Asy’ari dan Asy’ariyah yang rasional.
Paradigma keagamaan ahl al-hadits selanjutnya dikenal dengan salafisme. Jika paham ahl al-hadits diidentifikasi sebagai  corak Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah, dan jika ditarik kepada polarisasi paham keagamaan di Indonesia, maka Persis, al-Irsyad dan Muhammadiyah nampaknya sangat pantas menerima julukan ini. Karena organisasi-organisasi tersebut, walaupun secara sosiologis dapat dikatagorikan “modernis”, tetapi dalam paham keagamaanya dapat dikatakan “salafis”.
Seperti yang telah kita maklumi bersama, bahwa rumusan definisi ASWAJA yang populer dikalangan NU adalah “paham keagamaan yang dalam bidang fiqh mengikuti madzhab empat, mengikuti Asy’ari dan Maturidi dalam bidang Aqidah, serta mengikuti al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi dalam bidang Tasawwuf”. Sementara itu eksistensi ASWAJA di NU disebutkan dalam bermacam istilah: Madzhab, Paham, Aqidah, Dasar dan Haluan, yang masing-masing penyebutan memiliki makna tersendiri.
Diakui atau tidak, di dalam NU akhirnya terdapat beragam pemahaman terhadap ASWAJA, baik dari segi pengertian maupun eksistensinya. Ada yang memandangnya dengan sifat yang inklusif dan interpratable, dan ada pula  yang memeganginya secara eksklusif dan rigid. Berbagai pemahaman tersebut sesungguhnya berintikan “pola keagamaan bermadzhab”. Adapun pencantuman berbagai madzhab dalam rumusan ASWAJA NU dapat dipahami sebagai Ta’rif bi al-Mitsal (definisi dengan penyebutan contoh). Sebab boleh jadi bahwa konsep ASWAJA sebagaimana terdapat di NU itu, merupakan penyederhanaan terhadap kerumitan konsep  Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah itu sendiri, yang sepanjang sejarahnya mengakomudasi berbagai perbedaan.
Kesimpulan seperti tersebut di atas, diperkuat oleh dasar pemahaman ASWAJA yang diletakkan oleh pendiri NU. dalam Muqaddimah Qanun Asasi li Jam’iyat Nahdlat al- Ulama’ (Pembukaan Anggaran Dasar NU) yang ditulis langsung oleh KH.Hasyim Asy’ari, terkesan jelas bahwa salah satu mutivasi didirakannya NU adalah mempertahankan tradisi keagamaan yang berakar pada ajaran  Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah.  Dalam teks itu dapat pula dipahami bahwa Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah  berintikan pola keagamaan bermadzhab kepada Madzahib al-Arba’ah, tidak termasuk di dalamnya kepengikutan tehadapa madzhab-madzhab dibidang teologi dan Tasawuf --sebagaimana terdapat dalam rumusan tokoh-tokoh NU lainnya.
Dari beberapa uraian di atas, dapat kita simpulkan bahwa Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah  dalam NU merupakan tipikal aktualisasi Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah di Indonesia yang berintikan pola keagamaan bermadzhab. Pola keagamaan seperti ini membedakan dirinya dengan kelompok Islam lainnya dari sayap Islam modernis. Kedua kelompok ini sepanjang sejarah pergumulan umat Islam indonesia selalu terlibat perbedaan, baik pada tataran wacana keagamaan, konsep-konsep sosial, maupun politik yang tentu saja diduga kuat merupakan aktualisasi dari paham keagamaannya masing-masing.


* Makalah dipresentasikan dalam Dialog  Aswaja dalam rangka HARLAH NU yang diselenggarakan oleh Pengurus MWC Nahdlatul Ulama’ Umbulsari pada tanggal 14 September 2005.
** Pemakalah adalah Katib Syuriyah PCNU Jember,  Staf pengajar STAIN Jember, STAIFAS Kencong dan Pelayan Santri PP “Darul Arifin” Curahkalong Bangsalsari Jember.

Senin, 08 Juli 2019

Kreatifitas Pemikiran Warga NU Pacet Dalam Menyongsong Pilkades 2019

Suasana Giat Istighotsah di Graha NU Pacet (3 Juli 2019)

Seperti kita ketahui bersama MWCNU Pacet Mojokerto mempunyai kegiatan rutin istighotsah bersama setiap Rabu malam Kamis yang diikuti oleh pengurus MWCNU dan banomnya. Tujuan awal kegiatan ini diperuntukkan untuk berdoa dan kordinasi suksesi koinisasi yang memang sedang digalakkan di wilayah kecamatan Pacet. Kemudian tujuannya meluas menjadi ajang silaturrahmi dan pemunculan ide serta kreatifitas pemikiran kekinian dalam memperjuangkan NU di berbagai lini kehidupan.

Diantaranya saya tertarik dengan tulisan saudara kami H Imron Rosyadi (wakil ketua MWCNU Pacet) dalam menyikapi pesta demokrasi di tingkat desa, pilkades serentak 2019 yang beliau posting di grup WA warga NU Pacet (7Juli 2019). Meski ditulis secara spontanitas dan sederhana namun ada kekuatan pemikiran di sana. Mungkin pengaruh syahwat kopi nya mbah Mut yang memang pas di lidah dan hati. Atau mungkin pengaruh magic setelah rutin ikut pembacaan istighotsah di graha NU. He he he

Menurut saya pendekatan ide yang digunakan dalam tulisan itu adalah pengalaman kita dalam pilpres 2019 yang baru saja selesai, terakhir diputuskan oleh MK.

Berikut saya tuangkan tulisan beliau secara orisinil, tanpa editan sama sekali. Tentunya akan kita temukan istilah baru di kuping kita atau mungkin ketidak lengkapan dalam pengetikan huruf. Saya mohon maaf. Ya... itulah namanya naskah otentik. Tapi yang pasti bahasanya santai, lugas dan jelas.
=====
```MENGUKUR KEBERANIAN KADER MUDA NU DAN LOYALITAS WARGANYA
( Catatan ringan menjelang pilkades serentak)


Hiruk pikuk pileg n pilpres usai sudah, meski harus melalui proses yg sangat melelahkan bahkan tidak sedikit yg memprihatinkan dan harus berakhir di palu MK, membuahkan banyak catatan penting untuk sll di ingat n diperhatikan.

Selanjutnya kita memasuki gerbang baru yg juga krusial di tingkat grass root, khususnya di kab. Mojokerto yaitu pilkades serentak.

Dg tingkat kompetisi di ruang yg relatif sempit maka tak terelakkan lagi, antar sahabat, tetangga, famili bahkan keluarga bisa terjadi beda pandang bahkan potensi konflik sangat rentan terjadi akibat beda pandang terhadap calkades.
Namun ada hal yg strategis yg bagi keluarga besar NU.

Pertama-tama Belajar dari trend terbaru pilpres yg kita semua tahu, bahwa menjadi seorang pemimpin (calon) membutuhkan sikap kedewasaan yg tinggi untuk menghadapi segenap kemungkinan, kalah dan menang adalah keniscayaan yg harus dihadapi dg senyum dan ketenangan. Sikap ini seperti ini bukan sesuatu yg instan tapi akibat proses pembelajaran yg panjang, terstruktur sistematis dan masif ( 3 kata terakhir menjadi bulan2an akhir2 ini, tapi kali ini hanya sekedar mengenang saja biar nggak lupa sama salah satu tim sukses pilpres atas kreativitasnya dalam merangkai kata.... he he he).
Mulai dini sikap ksatria harus kita punya.

Kedua. Trend desa sebagai fokus pembangunan indonesia ke depan, dg alokasi dana yg melimpah, maka dibutuhkan sosok2 yg muda dan luar biasa, juga bisa membaca trend pengembangan ekonomi ke depan yg cenderung berubah cepat n pro teknologi komunikasi yg berkembang cepat.

Ketiga . Perkembangan teknologi utamanya komunikasi yg dahsyat ini, membuat desa2 menjadi "never sleep community" kawasan yg nggak pernah tidur. Sebagai contoh desa Pacet. Kawasan dan sekitarnya adalah tempat yg hidup sehari semalam. Diikuti juga dg kawasan yg dekat dg pasar misalnya, akibat revitalisasi/penguatan kembali pasar seperti sekitaran pasar kutorejo , pugeran dan sangat mungkin diikuti kawasan2 yg lain.

Sementara bertolak dari 3 hal itu, maka desa butuh sosok2 muda, sosok2 yg gak takut melek an, nggak takut ngopi, terangkum dalam sosok milenial dalam arti usia ataupun esensinya. Ber usia milenial atau minimal berjiwa mienial.

Di kita sangat melimpah kader2 milenial maupun jiwa n pemikirannya yg milenial, kita punya GP Ansor yg hebat, maupun kader2 muda NU, yg masih ke Ansor2 an, mgkin gak tega ninggalkan Ansor.

Sosok inilah kedepan layak kita ajukan, paska kades dia akan jadi kader NU n partai yg kuat..yg akhir jadi kader2 pimpinan daerah yg mantap.

Itu semua bisa kita lakukan namun butuh keberanian yg akan maju juga loyalitas warga NU, mentalitas warga NU yg sempat di amati n di rilis oleh Lakpesdam mojokerto paska pemilu lalu, memprihatinkan yg mayoritas memilih berdasarkan rupiah yg dia dapat . Mudah di giring oleh kemampuan finansial.

Ayo2 maju2 jadi cakades mumpung gratis n sambil menunggu saktinya mantra "nderek kyai sampai mati" bukan nderek yg menyangoni.

Wallahu'alam bisshawab


Graha NU pacet, 7719
Penikmat kopine pak De mut
Yg luar biasa nikmat n gratis```

(Agus Sekr)

Senin, 17 September 2018

Antologi Islam Nusantara


Antologi ISLAM NUSANTARA

Di mata Kyai, Habib, Santri dan Akademisi

© Pesantrenpedia Press


13.5 x 20.5 cm; iv + 84 halaman

Cetakan I: Agustus 2015



Penyusun: Abi Attabi’

Editor: Ridlo

Desain Cover: Agung Istiadi

Layout: Iqbal Novian


Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin tertulis dari penulis.

Penerbit & Percetakan:

Aswaja Pressindo

Anggota IKAPI No. 071/DIY/2011

Jl. Plosokuning V, No 73 Minomartani

Sleman, Yogyakarta

Email: aswajapressindo@gmail.com

Web: www.aswajapressindo.co.id

Telp: 0274-4462377




 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kaum muslimin yang terhormat, beberapa tahun belakangan ini kita sering mendengar istilah atau sebutan Islam Nusantara. Secara sederhana istilah itu diarahkan kepada umat Islam yang berada di Nusantara atau Indonesia. Namun sesuai dengan perkembangannya umat Islam yang bermukim di Indonesia tersebut mempunyai pendapat beragam tentang penggunaan istilah Islam Nusantara. Ada yang pro dan kontra. Ada pula yang berdiam diri tidak mau langsung menyalahkan pihak pencetus dan pendukung.
Untuk lebih jelasnya agar kita dapat berfikir secara obyektif dan ilmiah tentang Islam Nusantara, maka ada baiknya para pembaca yang budiman untuk membaca salah satu buku yang mengulas tentang Islam Nusantara karangan Abi Attabi'. Buku tersebut dapat anda Downloud DI SINI.